Bookmark

Berkenalan dengan Mahluk "Nasionalisme"

Anda orang Indonesia? Atau anda orang Malaysia? Pasti sedikit tahu tentang masalah yang akhir-akhir ini hangat sampai memanas (atau mungkin sekarang sudah gosong) dalam hal perebutan wilayah penghasil minyak oleh kedua negara ini. Masing-masing negara mengklaim bahwa wilayah tersebut adalah milik negara tertentu, mungkin karena isinya minyak maka menjadi perebutan, coba kalau isi wilayah tersebut adalah satu butir pasir sebesar biji sawi mungkin tidak akan masuk peta. Di Indonesia sendiri mendadak rame dibicarakan "Ganyang Malaysia", baik itu dimedia elektronik, internet sampai ke pos ronda, mungkin demikian pula dengan orang Malaysia yang mungkin saja memiliki slogan sendiri semisal "Ulek Indonesia" yang sekarang ramai dibicarakan
dinegara tersebut. Permasalahan ini muncul kembang kempis berkali-kali di antara kedua negara berseteru ini yang sedianya adalah satu keturunan melayu dan bahkan merupakan negara yang sama-sama penduduknya mayoritas Islam. Kedua negara unjuk gigi dengan persenjataan perang yang mereka miliki untuk membuat gentar lawannya, dari mulai persenjataan sekelas "pisau dapur" sampai dengan persenjataan sekelas "klik bluuum!". Orang Indonesia merasa bangga dengan negaranya "padahal bobrok dan korup" begitu pula orang Malaysia bangga dengan negaranya, lalu apa sebenarnya yang memicu hal ini mencuat berkali-kali? Minyak? Jika minyak yang menjadi permasalahan, pertanyaan berikutnya; Siapa yang diuntungkan oleh minyak diwilayah tersebut? Jelaslah bukan negara Indonesia ataupun negara Malaysia, yang meraup keuntungan sudah dapat dipastikan adalah negara-negara pemilik modal. Lalu kenapa kita berseteru sebagai saudara? Ternyata ada pihak ketiga yang menjadikan permasalahan ini bolak-balik dan mondar-mandir di kedua negara, mahluk ini bernama "Nasionalisme". "Bahwa nasionalisme adalah penemuan bangsa Eropa yang diciptakan untuk mengantisipasi keterasingan yang merajalela dalam masyarakat modern" (Elie Kedourie, 1960).

Nasionalisme atau ikatan kebangsaan muncul ditengah-tengah masyarakat sebagai (seperti) sebuah alternatif terhadap keadaan yang semakin tidak menentu. Padahal ikatan kebangsaan (nasionalisme) ini justru muncul disaat pola pikir manusia mulai merosot, dan nasionalisme adalah sebuah ikatan yang rendah nilainya.
Kenapa ikatan kebangsaan (nasionalisme) rendah nilainya? Mari kita telaah...
Ikatan kebangsaan (nasionalisme) muncul ketika manusia hidup dalam satu wilayah tertentu dan menetap didalamnya. Saat berada diwilayah tersebut naluri manusia berkembang untuk mempertahankan wilayahnya (negerinya atau tempat dimana mereka tinggal dan menggantungkan hidup). Dari sinilah cikal bakal munculnya nasionalisme (ikatan kebangsaan) makanya ikatan jenis ini memiliki nilai rendah. Jika kita bandingkan maka tidak jauh berbeda dengan kehidupan dunia binatang, yang akan mati-matian membela wilayahnya dari ancaman musuh dan ini lebih cenderung memancing sifat emosional dalam mempertahankan ikatannya. Selain itu ikatan kebangsaan bersifat pula kondisional yang akan menjadi kuat ikatan tersebut ketika suasana tidak aman atau ada ancaman musuh, ketika musuh mampu terusir dari wilayah tersebut dan keadaan berangsur-angsur aman, maka lemahlah dan sirnalah kekuatannya. Untuk itulah ikatan kebangsaan (nasionalisme) ini rendah nilainya.
Berdasarkan hal ini, ikatan nasionalisme merupakan ikatan yang rusak (tabi'atnya buruk) karena tiga hal[1]:
  1. Karena mutu ikatannya rendah, sehingga tidak mampu mengikat antara manusia satu dengan yang lainnya untuk menuju kebangkitan dan kemajuan.
  2. Karena ikatannya bersifat emosional, yang selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri, yaitu untuk membela diri. Disamping itu ikatan yang bersifat emosional sangat berpeluang untuk berubah-ubah, sehingga tidak bisa dijadikan ikatan yang langgeng antara manusia satu dengan yang lainnya.
  3. Karena ikatannya bersifat temporal, yaitu muncul saat membela diri karena datangnya ancaman. Sedangkan dalam keadaan stabil, yaitu keadaan normal, ikatan ini tidak muncul. Dengan demikian, tidak bisa dijadikan pengikat antar sesama manusia.
Sebenarnya masih banyak jenis-jenis ikatan rusak yang lainnya, misal; ikatan kesukuan, ikatan kemaslahatan, ikatan kerohanian yang semuanya itu tidak memiliki suatu peraturan. Seluruh ikatan tadi adalah jenis ikatan rusak yang tidak bisa dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya. Lalu apa ikatan yang benar...?
Ikatan yang benar untuk mengikat antar manusia agar mampu meraih kebangkitan dan kemajuan dalam kehidupan adalah ikatan aqidah aqliyah (aqidah yang sampai melalui proses berfikir) yang melahirkan peraturan hidup menyeluruh. Ini yang disebut dengan ikatan ideologis (ikatan yang berdasarkan pada suatu mabda/ideologi). Apa ideologi? Ideologi seperti apa yang benar? (bersambung...)

[1] Taqiyuddin an Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam (Nizham al-Islam), Halaman 34-35. Dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir.
[2] Wikipedia, Nasionalisme, diakses hari sabtu, 18 September 2010

0 komentar:

Posting Komentar